Kontroversi nama “Tuhan” dan “Saiton”

20150419_140321-1

Beberapa minggu ini, kita digemparkan oleh orang yang bernama Tuhan. Terjadi kontroversi, apakah “Tuhan” perlu mengganti namanya atau tidak. Baru-baru ini, kita dikagetkan kembali dengan orang yang bernama saiton. Bahkan, “Saiton” menyarankan “Tuhan” untuk tidak mengganti namanya. Sebenarnya, perlu tidakkah mereka mengganti namanya?

Setiap orang berhak berpendapat sesuai dengan idenya masing. Hanya saja, sebagai seorang muslim, layakkah kita menggantungkan cara pandang kita kepada akal kita semata atau menggantungkannya kepada keinginan kita semata-mata. Sebenarnya adakah tuntunan islam dalam masalah ini. Mungkin ada yang berkata pula islam yang mana? Islam Arabkah atau Islam eropa, atau Islam Melayu atau Islam Madura atau Islam Jawa atau Islam Minang atau islam yang mana? Tentu saja tiada lain dan tiada bukan adalah Islamnya Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ.

Nabiﷺ memerintahkan kita membaguskan nama

Sesungguhnya, memiliki nama yang bagus adalah sebagian diantara sebagian petunjuk Nabi ﷺ. Dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian. Maka perbaguslah nama-nama kalian. (Abu Dawud dalam sunannya no 4648. Didhoifkan oleh Al-albani)

Nabi tidak suka nama yang buruk

Kanjeng Nabi Shallahu ‘alaihi wassalam tidak suka ada orang memiliki nama yang buruk. Beliau Shollahu ‘alaihi wassalam akan mengubah nama buruk terserbut. Ibunda ‘Aisyah radhiallu ‘anha berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُغَيِّرُ الاِسْمَ الْقَبِيحَ

Nabi  dulu merubah nama yang buruk” (Hadits shohih riwayat Tirmidzi dalam kitab Adab No 3073)

Nabi ﷺ menyebutkan seburuk-buruk nama

Kanjeng Nabi Shollallahu ‘alaihi wassalam pernah menyampaikan dua hal kontradiktif terkait dengan nama. Yang pertama adalah beliau menyebutkan sehina-hina nama dan yang kedua Beliau shollallahu ‘alaihi wassalam mengabarkan kita tentang sebaik-sebaik nama.

Tentang seburuk-buruk nama, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah  bersabda:

‏ أَخْنَى الأَسْمَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ ‏

Sehina-hinanya nama di sisi Allah pada hari Kiamat kelak adalah seseorang yang bernama Malikil Amlak (raja diraja)“. (HR. Bukhori dalam shohihnya no 6205)

Nabiﷺ menyebutkan sebaik-sebaik nama

Tentang sebaik-baik nama, Rosulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

Sesungguhnya nama yang paling Alllah cintai adalah Abdullah dan Abdurrahman” (HR. Muslim dalam Shohihnya no 2132)

Nabi ﷺ juga bersabda:

تَسَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الأَنْبِيَاءِ وَأَحَبُّ الأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَصْدَقُهَا حَارِثٌ وَهَمَّامٌ وَأَقْبَحُهَا حَرْبٌ وَمُرَّةُ

Namailah diri kalian dengan nama para Nabi. Nama yang paling Allah cintai adalah Abdullah dan Abdurrahman. Nama yang paling benar/tepat adalah Harist dan Hammam. Nama yang paling buruk adalah Harb dan Murroh. (HR. Abu Dawud dalam sunnannya no. 4950).

Arti nama-nama yang disebutkan dalam hadits di atas:

Abdullah = Hamba Allah
Abdurrahman = Hamba Arrahman
Harits = Orang yang bekerja/berusaha
Hammam = Orang yang berkeinginan kuat
Harb = perang
Murroh = sangat kikir

Shahabat Mughiroh bin Su’bah رضي الله عنه pernah bertanya kepada Nabiﷺ tentang penduduk Najron (orang-orang Nasrani) yang suka memanggil dengan nama-nama orang sholeh terdahulu. Nabi ﷺ menjawab:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ ‏

Mereka memberi nama anak-anak mereka dengan nama orang-orang sholih sebelum mereka.(HR. Muslim dalam shohihnya No 2135)

Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits-hadits di atas:

  1. Anjuran dan perintah Nabi ﷺ untuk memperbagus nama
  2. Beliau ﷺ tidak suka dengan nama yang buruk. Beliau akan mengganti nama buruk seseorang dengan nama yang baik
  3. Allah سبحانه و تعالى sangat membenci orang dengan nama Malikil Amlak (raja diraja)
  4. Nama terbaik yang paling Allah سبحانه و تعالى sukai adalah Abdullah dan Abdurrahman
  5. Nabi ﷺ suka nama yang memiliki arti bagus seperti Harits (orang yang berusaha) dan Hammam (orang yang memiliki keinginan yang kuat)
  6. Nabi ﷺ tidak suka nama yang memiliki arti yang buruk seperti Harb (perang) atau Murroh (sangat kikir)
  7. Memberi nama anak dengan nama para nabi dan orang-orang sholih adalah perbuatan terpuji

Kembali ke kasus nama “Saiton” dan “Tuhan”. Saiton itu adalah sifat keburukan bahkan puncak keburukan. Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisakn setan sebagai roh jahat yang selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat. Selain itu ia juga berarti orang yang sangat buruk perangainya. Nabi ﷺ sangat tidak suka nama buruk apalagi pangkal dari segala keburukan seperti Saiton. Orang yang bernama “Saiton” seharusnya mengganti namanya jika memang benar-benar taat dan mengikuti Nabi ﷺ. Siapapun anda, jika nama anda memiliki arti yang buruk atau sifat keburukan, seyogyanya anda mengganti nama anda. Seseorang yang yang memiliki nama “Sengsoro” atau “sengsara” seyogyanya mengubah namanya dengan “Santoso” atau “Muflih” misalnya.

Bagaimana dengan nama “Tuhan”. Allah subhanahu wata’ala benci nama Malikil Amlak atau Raja di raja. Atau dengan kata lain, Allah tidak suka nama yang menunjukkan kebesaran dan keangkuhan bagi seorang manusia. Raja adalah nama yang normal. Namun Raja di raja menunjukkan sifat yang mengatasi segala raja, menunjukkan kemahabesaran dan kekuatan yang super dari seorang raja. Allah raja dari segala raja. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَقْبِضُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْأَرْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: “أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ؟

“Pada hari kiamat, Allah tabaraka wa ta’ala menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Lalu ia berfirman, “Akulah Raja, di manakah para raja bumi?”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada sisi lain, Allah سبحانه و تعالى paling suka dengan nama Abdullah (Hamba Allah) dan Abdurrahman (Hamba Arrahman). Kedua nama tersebut menunjukkan kerendahan diri kita dihadapan Allah. Kedua nama itu menunjukkan posisi kita sebenarnya sebagai seorang hamba, seorang budak yang sangat butuh dan perlu kepada Allah atau Arrahman.

Sekarang bagaimana dengan nama Tuhan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), Tuhan berarti sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia yang Maha Kuasa, Maha Perkasa. Jika menilik arti dari Tuhan, maka dapat dipahami bahwa maknanya jauh lebih kuat dari Raja di raja. Secara logika, kehinaan orang yang menggunakan nama Tuhan lebih kuat dan lebih sangat daripada orang yang menggunakan nama Raja di raja (Malikil Amlak). Oleh karena itu, sebagai orang islam yang berakal sehat, siapaun orangnya yang bernama Tuhan, seharusnya mengganti namanya.

Sangat dimungkin orang yang bernama “Tuhan” dan “Saiton” tidak mengetahui petunjuk Nabi ﷺ dalam masalah nama. Seyogyanya, ada diantara kita yang memberi nasehat mereka dengan bijak dan baik, dengan cara yang lembut agar mereka mengganti nama mereka. Jaman teknologi serba canggih, sangat dimungkinkan “Saiton”dan “Tuhan” akan membaca tulisan ini. Semoga Allah سبحانه و تعالى menjadikan tulisan ini sebagai salah satu hujjah/bukti kelak dihadapan Allah سبحانه و تعالى, bagi penulis dan siapapun yang menyampaikan isinya kepada keduanya. Semoga Allah سبحانه و تعالى memberikan hidayah kepada “Saiton” dan “Tuhan” serta kita semuanya Amin ya Robbal ‘alamin.

Wallahu ‘alamu bishshowab.

Sydney, 28 Agustus 2015